Cerita Dewasa - Mahasiswi Haus Sex Part II

Mahasiswi Haus Sex Part II



Raja Emas - Lila,seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi berusia 22 tahun. Dia adalah sahabat baik Ria. Posturnya 165 cm/50 kg. Payudaranya berukuran 34B. Orangnya putih, rambutnya agak ikal. Matanya tajam setiap kali berbicara seakan-akan menyelidiki isi hati lawan bicaranya. Bibirnya sexy, tidak tebal, tidak tipis, sangat seksi. Menurutku, bagian terseksi dari Lila ada pada bibirnya. Sangat menggoda untuk dikecup, dicumbu dan dicium sepuasnya. Apalagi kalau Lila menggunakan lip gloss agar membuat bibirnya selalu tampak basah. Benar-benar menggoda. Wajahnya sangat innocent alias bertampang tak punya dosa, tampak lugu sekali.

Tapi jangan salah, di balik wajahnya yang imut, ada nafsu yang membara. Ada hasrat seks yang selalu menggebu. Tiada hari baginya tanpa memikirkan sex. Aku mengetahuinya setelah Lila berterus terang padaku apa yang dia rasakan. Lila bercinta pertama kali di kelas 1 SMU, pada saat usianya masih 16 tahun. Sejak usia 12 tahun, dia sudah melakukan masturbasi dan lalu pacar pertamanya mendapatkan kegadisannya. Lila tidak pernah menyesali setiap momen seksualnya. Dia selalu menikmatinya.

Suatu hari aku menerima SMS dari nomor handphone Rani..

"Hai Dev.. Lagi ngapain? Aku Lila. Kenalin yah! Aku sahabatnya Rani. Aku pengen kenal denganmu. Kalau kamu bersedia, hubungi aku di nomor 081xx ya! Thanks" Aku segera membalasnya. Tetapi melalui nomor Rani.
"Hai Lila.. Kamu sekarang dengan Rani? Mana si Rani? Aku mau dia SMS aku (" Saat itu aku lebih ingin bertemu Rani karena aku sudah lama tidak bertemu dengannya).
"Rani lagi mandi. Dev, kamu SMS di hape-ku saja ya" Balas Lila.

Yah, aku tahu kebiasaan Rani. Kalau mandi lama sekali. Boros air, boros sabun, boros shampoo, boros listrik, boros waktu.. Pokoknya boros. Tidak percaya? Bayangkan, dia mandi selama 45-60 menit! Ria sendiri yang bercerita padaku. Aku sampai terheran-heran. Atau aku saja yang kurang pengetahuan tentang lamanya wanita mandi ya? Dibandingkan dengan lama mandiku yang hanya 10 menit, si Rani jauh lebih lama. Akhirnya aku memutuskan untuk ber-SMS dengan Lila saja.

"Ada apa kok minta SMS di HP-mu? Kan sama aja di HP-nya Rani..?" tanyaku.
"Ah.. Biar lebih privacy saja. Dev, gila.. Rani udah cerita tentang apa yang kalian lakukan di kamar ini!" Aku jadi terkejut. Wah, Si Rani suka membocorkan rahasia rupanya. Tapi aku jadi maklum pada saat mengingat bahwa si Lila ini memang sobat baiknya. Ya, tidak apalah.

"Cerita apa lagi? Dia puas nggak?" tanyaku pada Lila.
"Puas dong! Katanya punya lu besar, jago banget kissing-nya. Jago banget foreplay-nya! Jangan kepala besar ya!", jawabnya.
"Wah.. Kalau kepala besar sih enggak. Kalo penis besar iya.. Haha.." balasku usil.
"Ah yang bener.. aku ga percaya sebelum aku melihat nya sendiri?" goda Lila. Aku jadi penasaran dengan si Lila ini.
"Emangnya kamu sendiri udah berani ML?" pancingku.
"Yah, elu.. Dev. Ya udahlah! aku terus terang aja ama lu. Aku suka banget tahu!"

Perkataan si Lila membuat penisku ereksi. Keterusterangannya sangat Jarang kutemui. Biasanya wanita akan menutupi hasratnya. Apalagi pada cowok yang baru pertama ditemuinya. Tapi si Lila ini.. Berani sekali!

"Oh ya? Paling lu omong kosong doank.." pancingku lebih jauh.
"Hehe.. Lu mancing aku ya, Dev? Gak usah gitu.. Ntar malam telepon aku ya!"

Bandar Togel - Siang sampai malam aku kuliah sambil sesekali memikirkan Lila. Dunia ini memang luas, penuh keunikan. Dulu, hanya membicarakan hal yang berbau seksual saja sangat tabu. Tapi sekarang dengan kebebasan media, dengan kecepatan informasi yang hampir tanpa filter, siapa pun bisa mencari dan mendapatkan apa saja yang ia inginkan termasuk sex. Informasi tentang sex bisa dengan sangat mudah didapatkan di internet. Tak heran dalam waktu singkat, budaya 'sex itu tabu' telah terkikis.

Aku sangat yakin bahwa wanita seperti Lila, yang sangat menikmati sex, sangat banyak di Indonesia, tetapi hanya sedikit yang berani berkata, "Ya, saya suka dan menikmati sex". Tetapi lambat laun, aku percaya bahwa jumlah wanita seperti Lila akan semakin berkembang.

Saat malam tiba aku menelepon Lila, Kami berbicara banyak hal. Tapi memang pembahasan utama kami adalah sex. Lila mengakui dirinya hipersex. Tetapi dia tidak suka berganti-ganti pasangan. Dia punya pasangan tetap. Frekuensinya saja yang sering. Hampir setiap hari Lila bercinta. Gila.., aku bayangkan pasti lelah sekali setiap hari bercinta. Lalu kami pun membuat janji untuk bertemu di rumahnya.


Dari rumah aku mandi, menggosok gigi, menyiapkan dua buah kondom, handheld desinfectant dan merapikan bulu-bulu di wajahku. Aku memang tidak suka memelihara kumis dan jenggot. Kurang bersih kesannya. Walaupun kucukur habis, tetap saja terlihat kalau aku berbakat punya kumis. Justru terlihat seksi, kata Rina. Dengan sedikit parfum, kaos putih bersih dan jeans biru, aku berangkat ke rumah Lila. Di sepanjang perjalanan aku menebak-nebak setangguh apa Lila, bagaimana aksinya di ranjang. Apakah agresif, pasif atau jangan-jangan suka yang aneh-aneh di atas ranjang seperti menyakiti dan disakiti?

Memikirkan Lila dan perilaku sex-nya membuat penisku berdenyut-denyut. Di bayanganku sudah menari-nari sosok wanita telanjang yang akan bercinta denganku. Yang akan kugarap, yang akan kucumbu, kenikmati sepuasnya. Ah.. sebentar lagi aku akan bercinta.. Sebentar lagi aku akan menghunjamkan penisku ke vagina Lila. Sebentar lagi..

Lila tinggal serumah dengan neneknya. Orang tuanya bekerja di luar negeri. Sewaktu aku datang, neneknya sedang pergi. Pembantunya sedang menyeterika baju sambil menonton TV. Lila menemuiku dengan memakai celana pendek dan kaos ketat. Seksi sekali. Darahku berdesir setelah menyadari bahwa Lila tidak memakai BH. Wah.., jangan-jangan dia tidak pakai celana dalam juga, pikirku. Lila segera menggandeng tanganku dengan mesra. Matanya melirikku nakal. Busyet nih anak, menggemaskan sekali, pikirku lagi.

"Udah makan, Say..?" tanya Lila sambil jarinya menohok lembut perutku.
"Hm.. Udah. Kamu?" jawabku. Aku meremas jarinya.
"Ouch.. Kok diremas sih? Kalau yang ini udah makan?" tanya Lila lagi sambil mengayunkan tangannya menyentuh penisku dengan cepat. Ugh.., penisku bereaksi. Lila ini pintar sekali menggodaku. Aku tertawa ringan. Memang penisku belum 'makan' cukup lama.
"Kita masuk kamarku aja yuk.. Ada TV di kamar" ajak Lila. Aku melirik pembantu Lila yang juga sedang melihatku. Kulihat pembantu Lila tersenyum padaku sambil terbatuk-batuk. Wah, sudah tahu gelagat dia rupanya, pikirku.

Kamar Lila cukup luas. Ada TV, kulkas, AC dan kamar mandi. Mirip dengan kamar hotel. Aku menarik nafas panjang membayangkan kenikmatan yang sebentar lagi aku peroleh.

"Hayo.. Mikir apa?" goda Lila sambil memelukku dari belakang.

Pintu telah terkunci. Kurasakan kamar Lila sangat dingin karena AC. Pelukan Lila terasa hangat di punggungku. Bahaya sekali.. Dengan segala godaan dan stimulasi yang dilakukan Lila, membuat pikiranku sudah penuh dengan fantasi sex. Sangat berbahaya karena jika fantasi itu aku ikuti terus, aku akan mudah dikalahkan Lila nantinya. Aku berusaha rileks menenangkan pikiranku. Aku berusaha tenang.

"Gak mikir apa-apa kok.. Kamu sendiri mikir apa?" tanyaku. Aku mengambil remote dan menyalakan TV. Kubaringkan tubuhku di atas ranjang. Spring bednya enak sekali. Sambil memeluk guling aku acuhkan Lila. Aku memilih menonton TV. Lily ikut berbaring di sampingku.
"Aku mikirin kamu Dev.. Sejak tadi malam aku gelisah" bisik Lila.

Lila sengaja membisikkan kata-kata itu di telingaku hingga membuat telingaku merinding. Ugh.., Lila menjilat telingaku! Aku sangat sensitif di telinga, sehingga jilatannya di telingaku seketika membangkitkan birahiku. Mataku refleks memandangnya. Lalu Lila menciumku. Bibirnya yang seksi itu melumat-lumat bibirku. Oh.., dia tidak juga berhenti. Terus menerobos masuk, menghisap bibirku. Lidahnya menari-nari di rongga mulutku, mencari lidahku yang juga mulai menggeliat. Aku mulai meresponsnya. Kubalas hisapannya. Kubalas jilatannya. Kubalas dengan penuh semangat.

Aku menyukai cara Lila menciumku. Tegas dan kuat sekali cumbuannya. Caranya memadukan bibirnya yang penuh dengan lidahnya yang lincah menunjukkan pengalamannya dalam bercumbu. Nikmat sekali ciumannya. Nafasnya juga menunjukkan ketenangannya. Lila tidak terburu-buru tetapi dahsyat dalam mencumbu. Dia mampu mengatur nafasnya dengan luar biasa. Hembusan nafasnya semakin menghangatkan suasana. Apalagi matanya tidak pernah terpejam. Dia menatapku terus dengan berani.

Aku melepaskan ciuman kami lalu bangkit berdiri dan minum. Aku harus mengatur ritme karena penisku sudah mau meledak rasanya. Aku sangat terangsang karena itu aku harus menenangkan diri. Baru minum seteguk, Lila sudah merengkuhku kembali, membaringkanku dan aku ditindihnya. Lila kembali mencumbuku dengan tubuhnya di atas tubuhku.

Luar biasa, Lila semakin berani. Ciumannya semakin kuat dan cepat. Kadang dia menyerbu leherku. Menjilat dan sesekali menggigitku. Kemudian kembali mencium telingaku. Tangannya juga tidak tinggal diam. Menjambak rambutku dan memegang kuat wajahku. Hebat, aku salut dengan Lila. Wanita yang satu ini bisa memaksimalkan potensinya. Ciumannya di bibirku juga tidak monoton. Ada saja variasi gerakannya. Caranya menekan bibirku, menghisap dan menjilat juga bervariasi. Nikmat sekali.

Perlahan aku merasakan pantat Lila bergerak. Dengan tenang Lila menggesek penisku dari luar. Saat itu kami masih sama-sama berpakaian. Kurasakan penisku menggeliat bangkit. Semakin lama semakin tegang dan keras. Gesekan Lila membuat penisku berdenyut-denyut nikmat

"Enak, kan.. Dev?" bisik Lila. Ya ku akui enak sekali.
"Enak.. Tapi apa vaginamu bisa merasakan? Kamu kan masih memakai celana?" tanyaku ingin tahu. Aku tidak yakin Lila merasakan hal yang sama dengan yang kurasakan.
"Bisa Dev, tapi aku harus menggesek dan menekan agak keras.." jawabnya.

Bandar Togel Terpercaya - Aku mencoba mengikuti alur permainannya. Sebetulnya aku sudah ingin menelanjanginya. Gesek menggesek begini memang nikmat, tapi tetap saja jauh lebih nikmat bercinta langsung. Aku mulai bergerak mengambil posisi duduk. Tanganku bergerak menarik kaosnya. Dan benar, Lily tidak memakai BH. Susunya langsung kusambut dengan mulutku. Aku benamkan mukaku ke belahan susunya. Menghisap putingnya dan tanganku mulai meremas susu Lila sebelah kanan.

Lila juga menarik kaosku. Perlahan Lila mulai membalas mencium dadaku. Menjilat putingku dan tangannya menarik lepas celanaku. Penisku menyembul dengan gagah. Direngkuh oleh tangan halus Lila. Penisku mulai diremas dan dikocok oleh tangan Lila. Tangannya juga memijat naik turun dari kepala ke pangkal penisku. Oh.., nikmatnya, aku sudah lama menantikan saat-saat nikmat seperti ini.

Aku bergerak menuju selangkangan Lila. Kulepas celananya. Benar dugaanku, dia sudah tidak memakai celana dalam. Kurasakan vaginanya sudah basah. Vagina Lila bersih dari bulu. Rupanya ia mencukur habis bulu kemaluannya. Kami pun mengambil posisi 69. Aku membuka kaki Lila lebar-lebar dan mulai menjilati vaginanya. Pelan.. Aku menikmati vaginanya. Tanganku juga dengan terampil merangsang vaginanya. Mencari klitoris dan g-spotnya.

Penisku sendiri kumasukkan ke mulut Lila. Sambil naik turun, penisku bercinta dengan mulut Lila. Cukup sulit ternyata posisi 69. Tidak semudah yang sering kulihat di film-film bokep. Baru beberapa menit aku sudah lelah berada di atas tubuh Lila. Kami berganti posisi. Tetap 69 hanya saja posisiku di bawah. Dengan posisi ini Lila lebih aktif menggarap penisku. Oralnya hebat. Tangannya mampu bekerja sama dengan mulutnya hingga membuat penisku keenakan. Kami benar-benar melakukannya tanpa suara. Bagaimana bisa bersuara sementara mulut kami sedang sibuk mengoral satu sama lain? Hanya desahan nafas kami yang memburu.

Pikiran tenang adalah kunci bercinta. Setelah berhasil menguasai pikiranku, aku jadi rileks. Oral dari Lila kunikmati dengan santai. Hasilnya, aku tidak merasakan gerakan orgasme dari penisku. Aku jadi tahan lama. Lila sendiri tampaknya tidak kuat menahan gempuran oralku. Vaginanya semakin basah dan akhirnya dia mengalami orgasme. Cairan orgasmenya cukup banyak. Tubuh Lila mengejang beberapa saat menikmati orgasmenya. Mulutnya melepas penisku.

"Aahh.. Hebat Dev. Oralmu dahsyat! Enak sekali!" puji Lila.

Pengalaman memang membuatku semakin hari semakin hebat. Aku terus merangsang Lila. Kali ini kami kembali ke posisi normal. Aku memeluknya dari atas. Tubuhku menindih tubuh Lila. Tanganku tetap merangsang vaginanya. Sementara mulut kami kembali bercumbu. Di sela-sela cumbuan, aku mengajaknya bicara.

"Kok cepat, tadi udah nyampe?" tanyaku. Aku memang heran dengan Lila yang mudah orgasme dengan oral saja. Tidak selama Rani.
"Iya.. Aku memang mudah orgasme. Jadi, buat aku multi orgasme, Dev.." jawab Lila.

Wah, beruntung sekali pria yang bisa bercinta dengan Lila. Tidak perlu susah payah membuat Lila orgasme. Aku kembali mencium Lila. Kali ini seluruh tubuhnya aku cium dan jilati. Mulai dari seluruh wajah, telinga, leher, payudara, perut, punggung, pantat, tangan dan kakinya! Semua aku jilat dan cium dengan lembut. Cukup makan waktu lama dan menguras energiku. Tapi hasilnya, Lila mulai menggeliat menandakan birahinya mulai naik kembali. Aku harus sabar dan dengan tekun merangsangnya. Titik lemah Lila adalah di vagina dan perutnya. Jadi aku memfokuskan merangsang tubuhnya di dua titik itu. Pelan, refleks kaki Lila mulai terbuka lebar. Vaginanya sangat merah. Tanpa bulu kemaluan membuatnya tampak segar. Aku sengaja menatapnya agak lama seakan meneliti pusat kenikmatan dunia itu.

"Aduh.. Malu.. Jangan dilihatin gitu dong.." rajuk Lila. Tapi itu cuma basa-basi. Kulihat Lila sangat menikmati vaginanya kuamat-amati.
"Indah sekali, Lila. Seksi sekali.." komentarku.

Ya, aku dengan bebas bisa mengamati vaginanya. Merah menggoda menantang. Terhidang sejelas-jelasnya di depanku. Vagina Lila tiba-tiba seakan hidup dan berkata, "Tunggu apa lagi? Ayo masuk!" Aku menahan nafas. Penisku juga sudah berontak ingin menerjang masuk.

Perlahan, penisku menembus vaginanya. Mulai kugerakkan tubuhku bercinta dengan Lila. Setiap gesekan penisku di vagina Lila kunikmati. Lily dengan terampil mengimbangi gerakanku. Tubuh kami bergerak selaras. Menyatu. Kami bercinta! Setiap kali penisku menggesek vaginanya, Lila mendesah. Lama-kelamaan suara Lila semakin keras. Aku juga tidak segan mengeluarkan desahanku.

"Arg.. Arg.. Ya, terus.. Enak.. Kamu luar biasa.."
"Oh.. Terus.. Ya.. Ouch.. Oh.."

Berbagai macam kata yang tidak terkontrol keluar dari mulut kami. Kami terus saling memacu birahi. Memburu kenikmatan tiada tara. Penisku terasa panas. Denyutannya semakin menjadi-jadi. Jika ambang orgasme tiba, aku berhenti sejenak. Kami berganti posisi doggy style. Kemudian bercinta lagi. Ganti posisi lagi. Bercinta lagi.. Enak sekali. Kami sama-sama tahan lama.

Kini aku memangku Lila. Agak sakit terasa di penisku ketika Lila menurunkan tubuhnya hingga membuat penisku menembus vaginanya. Desahan Lila semakin keras. Kami berlomba mencapai finish.

"Kamu siap, Dev ? Aku punya jurus rahasia.." tanya Lila.
"Jurus apa..?" aku penasaran.

Tiba-tiba kurasakan vagina Lila menjepit penisku. Agh.. Enak sekali. Vaginanya seperti membesar dan mengecil, menjepit dan melepas penisku. Aku seperti dibawanya terbang semakin tinggi. Melayang semakin tinggi. Kenikmatan yang kurasakan semakin memuncak. Setiap detil tubuhku penuh dengan keringat kenikmatan. Begitu pula dengan Lila. Tubuhnya bergetar dan bergoyang menikmati percintaan kami.

Tak lama kemudian aku mulai merasakan gelombang orgasmeku datang. Aku kembali menahan diri. Kucabut penisku dan kami berganti posisi menjadi doggy style lagi. Kembali aku memasukkan penisku. Lila menungging membelakangiku. Pantatnya penuh dan seksi. Aku menghunjamkan dan mengocok penisku dengan cepat dan kuat.

"Keluarin di mana nih?" tanyaku memastikan dimana aku harus orgasme.
"Di dalam saja. Aku udah minum obat kok.."
"Arg.. Argh.." Hanya desahan nafas kami yang semakin memburu. Kami sudah bercinta cukup lama. Lila tangguh juga. Dia tampak sangat menikmati ini semua. Wajahnya memerah dilanda birahi.
"Ayo lebih kuat dan cepat, Dev.. Aku sudah hampir sampai.." ajak Lila.

Yah ini mungkin sudah saatnya. Aku memacu lebih cepat. Desahan nafas dan lenguhan kami makin cepat. Aku terus memompa penisku. Maju mundur, putar, maju mundur.. Terus sampai akhirnya kurasakan orgasmeku makin dekat. Lila juga semakin dekat.

"Iya.. Terus.. Terus.." teriak Lila.

Aku berusaha mati-matian menahan agar tidak orgasme duluan. Otot-ototku berjuang memperlama ereksiku. Agh.. Nampaknya aku mulai tidak tahan. Sudah terlambat untuk menghentikan ini semua. Sebentar lagi aku akan orgasme.. Srr.. Crot.. Sr.., aku orgasme sampai tubuhku terkejang-kejang. Ada hentakan-hentakan di tubuhku saat aku orgasme. Tapi aku masih tetap menghunjamkan penisku. Aku ingin mengantar Lily mencapai orgasme keduanya.

"Ah.. Arh.. Argghh.. Ya.. Ya.."

Akhirnya tubuh Lila bergetar sangat kuat. Tangannya mencengkeram sprei dengan kuat dan menariknya! Matanya terpejam dan mulutnya terbuka lebar mengeluarkan jeritan panjang.. Lila orgasme! Aku nyaris gagal membuatnya orgasme yang kedua kalinya. Untung sekali aku bisa bertahan cukup lama. Aku berjanji akan lebih baik lagi lain kali.

"Wah.. Maaf Lila.. Kamu kuat sekali. Aku nyaris tidak bisa membawamu orgasme yang kedua.." aku minta maaf dengan tulus sambil memeluknya.
"Wah.., aku yang makasih sekali sama lu, Dev. Kamu kuat lho.. Kita bisa orgasme sama-sama.. Aku senang sekali.." jawabnya melegakan hatiku.

Aku kembali menciumnya. Ini adalah service-ku setelah orgasme. Aku membelai-belai tubuhnya dan meremasnya dengan ringan. Memijat tengkuk dan punggungnya. Kami kemudian bercerita - cerita. Dengan jujur Lila mengakui bahwa dia sangat membutuhkan sex. Baginya memang sex adalah faktor utama. Dia mengakui tidak bisa hidup tanpa sex. Kemudian sampailah aku pada pertanyaanku..

"Kalau disuruh memilih pria yang sex hebat tapi dengan pribadi buruk atau pria dengan pribadi luar biasa tapi sex buruk, kamu pilih mana?" Lila terdiam. Bingung.
"Gimana ya.. Mestinya aku mau pilih yang sex-nya hebat aja deh. Tapi kok ya tidak yakin. Itu pilihannya mengikat tidak? Maksudku.. Sampai pernikahan ya?"Lila bertanya
"Iya.. Keputusan yang mengikatmu sampai tua. Sampai mati." jawabku.
"Aduh.. Pusing. Yang mana ya? Sex hebat tapi kalau tiap hari di sakitin, ditinggal selingkuh, tidak diberi nafkah, anak-anak ditelantarkan.. juga percuma. Tapi biar semua baik, kalau tanpa sex ya nggak enak.. Gimana ya. Eh, tapi dia tidak impoten kan?"
"Kalau tidak impoten gimana, kalau impoten gimana?"
"Kalau tidak impoten, nggak apa-apa. Aku pilih yang pribadinya baik deh. Sex buruk bisa aku ajarin. Asal jangan impoten permanen." Lila mulai menemukan jawabannya.
"Kalau impoten?" desakku. Ini adalah pertanyaan yang paling sulit dipilih.
"Wah.. Benar-benar bingung aku. Kalo gitu aku pilih yang sex-nya hebat aja deh. Mungkin pelan-pelan pribadinya bisa tambah baik.." jawab Lila. Pilihan yang masuk akal.

Aku lega kembali mendapatkan jawaban detil. Informasi kembali kudapatkan dari Lila. Yah.. Aku masih harus bertanya pada Rani.
Sejak malam itu kami berdua pun sering melakukan sex.Kadang jika Lila lagi nafsu, dia sms aku suruh kerumahnya. Dan kadang jika aku sedang pengen, akupun sms Lila untuk ke kostan ku.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »